Rentak Harapan di Panggung Merdeka

Desa Karangsari adalah sebuah desa yang terletak sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Pemandangannya yang indah nan asri membuat siapapun yang tinggal disana merasakan ketenangan dan kebahagiaan. Tidak ada polusi dan kemacetan membuat banyak orang lebih memilih untuk tetap tinggal di desa daripada melakukan urbanisasi. Penduduk desa Karangsari dikenal sangat ramah terlebih kepada pelancong yang datang untuk berkunjung ke desa mereka.

Tahun ini untuk memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Desa Karangsari akan membuat banyak sekali kegiatan baik itu bagi anak-anak, pemuda, maupun dewasa. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah Perlombaan Seni tari dan tarik suara, yang dapat diikuti oleh para pemuda-pemudi. Tentunya banyak dari mereka yang sangat antusias untuk mengikuti perlombaan tersebut, mengingat hadiah yang diberikan pun sangat menggiurkan. Di tengah antusiasme tersebut, ada seorang remaja bernama Wita yang sangat ingin mengikuti lomba tari tradisional, namun ia tidak yakin akan kemampuannya. Mengingat, banyak orang juga meragukan bakat yang ia miliki.

Wita adalah gadis yang sangat suka menari. Ia sering berlatih menari di rumahnya dikala tidak seorang pun ada disana. Ia sangat percaya diri kala ia menari seorang diri di kamarnya. Setiap ada kegiatan menari baik di sekolah maupun pertunjukkan di desa, Wita merasa bahwa dirinya tidak sebaik teman-temannya yang lebih berpengalaman. Oleh karena itulah, ia selalu mengurung rencananya untuk mengikuti kegiatan menari. Namun, ketika ia mendengar bahwa desa Karangsari akan mengadakan Lomba tari tradisional bagi pemuda, Wita merasa ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan kemampuan menarinya.

Wita pun dengan gigih berlatih di kamarnya ditemani alunan musik yang semakin membuatnya berimajinasi. Tariannya mengalun dengan sempurna, seakan-akan ia menghidupkan setiap gerakan dengan kecakapan dan semangat yang membara. Sang ayah yang melihat pemandangan yang tak biasanya itu pun, memperhatikan setiap lekuk tarian yang ditampilkan oleh Wita. Ayahnya tak menyangka bahwa Wita memiliki kemampuan yang mumpuni dalam seni tari. Tubuh Wita yang lentur membuat setiap lekukannya menciptakan simfoni gerak yang indah. Ayahnya sangat terpaku dengan kemampuan menari Wita.

“Wah, anak bapak luar biasa. Bapak tidak menyangka bahwa kamu ternyata jago menari” kata sang ayang sambil memberikan tepuk tangan tanda penghargaan kepada putri semata wayangnya itu.

“Eh bapak. Ah Wita hanya gemar saja pak” jawab Wita dengan wajah yang mulai memadam.

“Tidak nak. Kamu tadi menari dengan sangat indah. Bagaimana jika kamu ikut lomba tari nanti? Bapak yakin sekali kamu pasti bisa” sang ayah mencoba untuk meyakinkan Wita agar ia mau mendaftarkan dirinya untuk lomba tari tradisional itu.

“Wita sebenarnya ingin sekali mengikuti perlombaan itu pak. Tapi, Wita tidak percaya diri. Wita malu untuk tampil di depan orang banyak” kata Wita sambil menunduk.

“Wita anakku, dengarkan bapak. Kamu memiliki bakat yang mumpuni dalam menari. Jangan biarkan keraguan menghalangi semangatmu. Kamu harus berani mencoba. Dengan mencoba kamu akan tahu kapasitas dirimu, dan kamu akan belajar memperbaikinya. Namun, jika kamu tidak pernah mencoba, kamu tidak akan pernah mengetahui apa-apa. Jadi, beranikan dirimu untuk keluar dari zona nyaman niscaya kamu akan berhasil” ucap sang ayah tersenyum hangat sambil memegang pundak Wita, putrinya itu.

Mendengarkan wejangan dari ayahnya, Wita pun sadar bahwa ia tidak dapat larut dalam zona nyamannya. Ia harus keluar dan membuktikan dirinya bahwa ia mampu. Tak peduli tentang orang lain yang mungkin lebih hebat darinya. Yang penting adalah, ia berani mencoba dan keluar dari comfort zone.

Motivasi dari ayahnya menyadarkan Wita bahwa ia harus berani menghadapi ketidakpastian dan keraguan. Dengan tekad dan semangat yang membara, Wita pun memutuskan untuk berlatih lebih keras, demi membuktikan dirinya bahwa ia berani menerobos pintu keraguan dalam dirinya.

Hari perlombaan pun tiba. Wita dapat melihat panggung yang dihiasi dengan nuansa dan ornamen merah putih yang menjadi ciri khas memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Ia juga melihat banyak penonton yang berdatangan untuk menyaksikan perlombaan tari tradisional dan tarik suara itu. Wita yang berdiri di samping panggung itu merasa sangat gugup. Jantungnya bekerja dua kali lipat dari biasanya. 

Perlombaan pun akhirnya dimulai. Wita mendapatkan nomor urut kedua dari sepuluh peserta yang akan bersaing dalam lomba tari tradisional. Saat peserta nomor urut satu sedang tampil, Wita dapat melihat betapa indahnya setiap gerakan yang ditampilkan oleh gadis itu. Sedikit merasa tidak yakin dengan dirinya, Wita pun mengingat kembali pesan ayahnya bahwa ia harus semangat dan optimis. Saat namanya dipanggil, Wita pun mengumpulkan keberaniannya untuk naik ke atas panggung yang sudah disediakan.

Alunan musik yang lantang membuat Wita segera memulai pergerakannya. Dengan gerakan yang lincah dan terampil, ia menari seolah-olah mengalir seperti air di atas panggung, memikat setiap mata yang menonton. Kaki kecilnya bergerak dengan keanggunan, setiap langkahnya penuh dengan kepercayaan diri dan keterampilan. Wajahnya yang penuh ekspresi menampilkan emosi yang dalam melalui setiap gerakan tariannya. Wita benar-benar menampilkan yang terbaik.

Saat alunan musik itu berhenti, teriakan dan tepuk tangan yang meriah dari penonton berhasil membuat Wita sangat lega. Ia sangat bahagia bukan hanya karena penampilannya diterima dengan baik, tetapi karena ia berhasil keluar dari zona nyamannya.

Setelah beberapa peserta telah selesai menampilkan pertunjukannya, tibalah saatnya pengumuman pemenang lomba tari dan tarik suara dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia. Juri pun membacakan pemenang lomba hari ini. Semua peserta terlihat gugup menunggu pengumuman pemenang. Juara ketiga dan kedua lomba tari pun sudah diumumkan dan tidak ada nama Wita yang dipanggilkan. Wita sudah mulai pasrah bahwa dirinya tidak akan memenangkan perlombaan kali ini. Namun, ketika dewan juri membacakan nama pemenang lomba tari hari ini, betapa terkejutnya Wita saat mengetahui bahwa dirinya lah yang menjadi juara pertama dalam lomba kali ini. Ia terlihat sangat bahagia dan haru saat mendengar namanya dipanggil. Dewan juri pun memberikan hadiah berupa uang pembinaan dan piala. Tentunya, Wita sangat bahagia menerimanya.

Ketika perlombaan selesai, keluarga Wita pun datang dan memberi selamat kepada dirinya yang mendapat juara pertama pada lomba tari tradisional itu. Sang ayah terlihat sangat bangga terhadap pencapaian Wita. Firasat sang ayah benar bahwa Wita akan berhasil memenangkan lomba hari itu.

Di sore harinya, dimana terlihat kilau cahaya bagaikan lukisan yang digradasi dengan warna jingga yang mempesona, terlihat Wita yang duduk sambil memegang piala yang berhasil ia bawa pulang hari ini, karena dengan seizin Tuhan ia berhasil memenangkan lomba tari tradisional hari itu. Ia bukan hanya senang karena mendapat hadiah dan menjadi pemenang, namun ia juga dapat menerobos pintu keraguan dan ketidakpercayaan akan kemampuan dirinya. Selain itu, ia juga berani untuk keluar dari zona nyamannya. Wita sangat bersyukur diberikan kesempatan untuk belajar hal yang sangat berarti dalam hidupnya. 

Wita yang penuh dengan semangat, keyakinan dan optimisme dalam dirinya pun bangkit dan tidak akan membiarkan keraguan menghalangi langkahnya. Akhirnya, dengan keberanian yang dimilikinya, ia berhasil mencapai banyak hal dalam hidupnya.

“Jika kita tidak pernah mencoba, bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memiliki kesempatan? Pada dasarnya kesuksesan akan datang kepada siapapun yang berani mencoba.”



TAMAT


Komentar

Postingan populer dari blog ini

GET EASY TO LEARN ENGLISH

Simple Present Tense